Analisa PINSAR: Panic Selling Peternak Ayam Broiler Jawa Tengah Dan Jawa Timur

Analisis PINSAR edisi Senin, 1 September 2014
Selamat Siang Peternak Ayam Broiler

TOPIK:
Panic Selling Peternak Ayam Broiler Jawa Tengah Dan Jawa Timur

Selamat siang sahabat-sahabat peternak ayam broiler (mandiri dan kemitraan) Jawa Tengah dan Jawa Timur, izinkan kami sekedar berdiskusi di sisi suplai.

Poin-poin:
1. Data menyatakan bahwa selama bulan puasa (Juli 2014) suplai DOC berkurang sangat banyak (mencapai > 30 %), sehingga panen ayam minggu lalu bisa mencapai harga > Rp 20.000,-

2. Panen ayam di Jawa sekitar umur 35 hari, artinya minggu kemarin di Jawa panen ayam yang chick-in antara tanggal 21-25 Juli 2014.

3. Lebaran tanggal 28-29 Juli 2014 DOC tidak menetas, tetasan 31 Juli-1 Agustus 2014 hanya sesuai pesanan, bisa dipastikan suplai ayam besar di Jawa Tengah – Jawa Timur juga akan berkurang lebih dari 50% di minggu ini dan seterusnya suplai cukup sedikit karena suplai DOC selama 1-29 Agustus 2014 juga cukup sedikit (diindikasikan dengan harga DOC yang meroket di pasaran).

4. Mari kita bersama menghitung jumlah suplai ayam di kandang masing-masing. Semoga harga bisa di atas HPP sampai awal Oktober 2014, bisa kita jaga bersama. Hentikan panic selling (penjualan banting harga). Mohon bantuannya untuk menyebarluaskan info ini ke sesama peternak (khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur). Ikuti terus perkembangan harga harian di www.arboge,com yang selalu diperbaharui. Silahkan berikan masukan dan koreksi atas data di atas. Feedback Anda akan sangat berharga bagi kita semua.

(PINSAR milik semua PETERNAK, untuk semua PETERNAK)

Posted in Analisis PINSAR, Ayam Broiler, Solusi | Tagged , , , | Leave a comment

Perhitungan Nilai Penyusutan Ayam Ras Petelur – Penting!

Seandainya, pullet sampai dengan umur 23 minggu yang hasil produksinya sudah bisa untuk beli pakan dan biaya operasional, peternak sudah tidak merogoh kantong lagi, harganya Rp 70.000/ekor. Nanti pada umur 81 minggu, saat diafkir harganya Rp 17.500/kg x 1,9 kg/ekor = Rp 33.250 x sisa hidup 85% = Rp 28.262/ekor, netto.

Selisih beban = Rp 70.000 – Rp 28.262 = Rp 41.738. Bila performans Hen House (H.H) didapat 20 kg telur/ekor, maka nilai penyusutan ayam petelur = Rp 41.738 : 20 kg telur = Rp 2.087/kg telur.

Jadi, tiap kg telur yang dijual oleh peternak harus disisihkan senilai Rp 2.087/kg telur untuk mengganti pullet yang akan datang. Tidak main-main.

Coba kita hitung, bila peternak punya ayam petelur 10.000 ekor dengan produksi rata-rata 520 kg/hari, maka sang peternak harus menyisihkan beban biaya penyusutan senilai Rp 1.085.240/hari = Rp 32.557.200/bulan x 15 bulan = Rp 488.358.000/periode.

Anehnya, ternyata bila dibelikan pullet umur 23 minggu dengan harga sama Rp 70.000/ekor, hanya dapat 6.976 ekor. Artinya, si peternak masih harus menyisihkan sebagian keuntungannya untuk menambah biaya beli pullet supaya dapat 10.000 ekor.

Pertanyaannya, bagaimana menekan beban biaya penyusutan ayam petelur?

1. Cetak pullet dengan biaya seefisien mungkin supaya harga pullet kurang dari Rp 70.000. Dengan catatan, tanpa mengorbankan performans-nya: daya hidup tinggi (95% dari DOC), bobot badan sesuai standar, keseragaman 85% dan dalam kondisi sehat. Kalau pullet-nya beli, jangan salah pilih, teliti sebelum membeli (memang gampang teorinya);

2. Deplesi selama masa produksi sampai dengan 81 minggu maksimum 10%;

3. Performance produksi seperiode harus tinggi, Hen House (H.H) sampai dengan umur 81 minggu bisa dapat 21 kg/ekor;

Bila mampu memperbesar faktor pembagi, maka bisa dapat penghematan antara 10-20%. RUUUAAARRR BIASA.

Silakan bila ada yang mau menambahi, koreksi atau menyanggah. Saya menghitungnya pakai kalkulator merk dalam negeri. Siapa tahu dengan dihitung pakai kalkulator merk luar negeri jadi hemat.

Posted in Ayam Petelur, Solusi | Tagged , , , | Leave a comment

Alumunium Foil Untuk Atap Kandang Ayam Broiler

Atap kandang memegang peranan yang sangat vital dalam menyalurkan panas dari sinar matahari di samping fungsi utamanya yang memang sebagai sarana peneduh dari panas dan hujan. Namun, design atap kandang yang tidak tepat bisa berpengaruh fatal terhadap kondisi mikro klimat di dalam kandang. Belum lagi bahan atap yang digunakan, apakah mampu menyerap panas, menolak panas, bahkan meredam panas yang diterima pada saat terik matahari yang mencapai 35-40°C di siang hari. Di berbagai daerah di tanah air ini ternyata banyak sekali variasi bahan atap yang digunakan oleh peternak baik broiler.

Berdasarkan letaknya, kita bagi peternakan  menjadi 2 kelompok yaitu peternakan di dataran tinggi dan dataran rendah. Karakter yang membedakan kedua kelompok itu adalah tingginya temperatur dan kelembaban lingkungan yang pada akhirnya menyebabkan cekaman panas bagi ayam.

Pada daerah dataran tinggi, didapati temperatur yang lebih rendah, bahkan pada jam-jam tertentu di malam hari udara sangat dingin dan menusuk tulang. Pembuatan kandang dan bahan atap yang dipakai tentunya harus berbeda dengan bangunan kandang di dataran rendah. Banyak di antara peternak menggunakan atap genting atau asbes yang harapannya mampu menghangatkan ayam pada saat malam hari dan udara dingin. Namun kelemahannya karena kelembaban udara yang tinggi pula menyebabkan jenis atap seperti ini akan mudah rusak. Lagipula atap genting membutuhkan jumlah kayu penahan yang sangat banyak supaya kuat menyangga bebannya. Memelihara ayam di dataran tinggi apabila di lihat dari sisi mikro klimat, ayam tetap lebih cocok, karena pada dasarnya memang ayam ini membutuhkan temperatur yang rendah, sehingga metabolisme ayam bisa berjalan dengan baik tanpa ada gangguan cekaman panas, stress dan lain-lain.

Yang lebih rumit adalah memelihara ayam di dataran rendah. Faktor cekaman panas, stress di siang hari, fluktuasi suhu yang ekstrem, menyebabkan ayam menjadi panting (megap-megap) sehingga metabolisme di dalam tubuh ayam menjadi tidak normal. Belum lagi efek lain dari cekaman panas ini yaitu menurunkan sistem imunitas di dalam tubuh ayam sehingga ayam menjadi sangat rentan terhadap serangan virus dan berbagai penyakit lainnya. Pemilihan jenis atap yang baik diharapkan menjadi salah satu alternatif. Di daerah pesisir seperti pantai selatan dan utara pulau Jawa banyak kita jumpai para peternak menggunakan jenis atap rumbia (bahasa Jawa: welit/blebet).

Tumbuhan dengan karakter daun mirip daun pohon kelapa, tetapi tidak tinggi ini banyak dijumpai dan ditanam di daerah pantai yang memang diambil daunnya dan ditata sedemikian rupa sehingga membentuk lembaran-lembaran untuk kemudian disusun sebagai atap. Di samping murah, jenis atap ini ternyata mampu meredam panas dari sinar matahari, dan bahkan sebagai insulator. Pada siang hari atap ini mampu ‘menangkal’ panas sinar matahari dan mengurangi panas secara sangat nyata. Jadi meskipun lokasi peternakan berada di daerah pantai yang panas ayam tetap nyaman. Kondisi lain yang mendukung adalah tingkat sirkulasi udara yang lancar, dan biasanya memang di daerah pantai ini mengalir udara dengan kencang. Ini akan semakin ‘mendukung’ performans ayam yang dipelihara. Dan sebaliknya pada malam hari, di saat udara sangat dingin, dengan menggunakan atap rumbia ini seolah-olah mampu mengalirkan udara hangat ke dalam kandang. Fluktuasi temperatur pun dapat diminimalisir. Kelemahan dari atap rumbia ini tidak tahan lama, mudah sekali lapuk dan dimakan sejenis ulat, dan yang pasti mudah terbakar.

Pada daerah lain dengan kondisi yang sama seperti pesisir utara Jawa, peternak berinovasi lain. Mereka memanfaatkan limbah, berupa aluminium foil sebagai atap kandang. Kandang seperti ini banyak dijumpai di daerah Indramayu, Tegal, Brebes, Pekalongan, Lamongan dan Situbondo. Masuk ke dalam kandang pun serasa ayam ini nyaman, karena memang efek dari penggunaan aluminium foil ini sebagai insulator juga. Kandang per 1.000 ekor ayam memerlukan atap alumunium foil sebanyak 80 kg. Konstruksi atap tak menghabiskan kayu yang banyak karena lembaran alumunium foil sangat ringan seringan harganya. Hanya Rp 24.000/kg bebas ongkos kirim ke seluruh Jawa via kereta api untuk minimal pesanan 200 kg. Untuk pemesanan, silakan klik di sini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Posted in Ayam Broiler, Mesin Peternakan, Solusi | Tagged , , , , , , , | Leave a comment