Stabilkan Produktifitas Ayam Dengan Kontrol Suhu Dan Kelembaban Udara

Udara dingin mulai merayap di senja itu. Angin yang bertiup agak kuat memaksa orang di luar rumah melipat kedua tangannya mencari kehangatan. Namun itu tampak tidak dirasakan oleh Pak Handoyo yang sedang mengawasi pekerjaan 2 anak kandang menyiapkan tempat pemanas anak ayam. Sesekali ia ikut turun memastikan segala sesuatunya benar. Mulai dari menghampar karung-karung bekas, menaburkan sekam, menata lembaran-lembaran koran bekas, merapatkan dan merapikan tirai plastik, menata tempat makan dan minum anak ayam yang telah terisi sedikit saja, memasang plat seng tipis berkeliling dan menyalakan pemanas berbahan bakar briket batubara. Peluh mengembun di wajahnya yang tersenyum merasa yakin atas kesiapan ruang pemanas anak ayam. Pak Handoyo adalah peternak ayam broiler di daerah pinggiran kota Nganjuk, Jawa Timur. Telah 2 tahun ini semenjak pensiun ia menekuni usaha peternakannya secara bermitra dengan sebuah perusahaan. Rencananya nanti malam, … Lanjutkan membaca

Maling Beraksi Di Malam Hari

Jarang disangka orang bahwa bekerja memelihara ayam ras broiler menjanjikan hasil yang dahsyat. Hanya kerja maksimal 40 hari seorang peternak bisa meraup keuntungan bersih 2.000 sampai 5.000 rupiah per ekor. Bayangkan jika Anda memelihara 5.000 ekor ayam ras broiler mendapat laba bersih 2.000 rupiah saja per ekor maka penghasilan bersih 10 juta rupiah berada dalam genggaman. Jika dihitung bulanan, Anda berpenghasilan 7,5 juta rupiah per bulan. Kata ayah saya yang seorang pensiunan PNS, itu 2 x gaji PNS golongan IV b dengan masa kerja 30 tahun! Mohon maaf saya meminjam standar gaji PNS karena mudah menghitungnya. Untuk bisa mewujudkan hal itu, kali ini kita akan membahas suatu tantangannya. Para peternak ayam ras broiler sering lengah dan kemalingan di malam hari. Ada 2 macam maling yang datang mengendap-endap. Pertama adalah maling ayam berwujud manusia, mulai dari: … Lanjutkan membaca

Lalat Terancam Punah Di Bali

Laiknya kodrat penciptaan segala makhluk di jagat raya ini yang berpasang-pasangan: laki-perempuan, jantan-betina, siang-malam, suka-duka, rugi-untung, wangi-bau, demikian juga dengan peternakan-lalat. Di mana ada peternakan di situ ada lalat. Tak sekedar ada melainkan berjuta-juta lalat bersumber dan berkembang biak di lingkungan peternakan. Jika ini disebut takdir lalu mau apa kita. Sementara kita sangat membutuhkan hasil peternakan itu baik berupa  daging, telur, susu maupun kulitnya ya kita harus ikhlas menerima kenyataan ini. Namun begitu, ada hal yang bisa dan sah untuk dilakukan, yakni mengendalikan populasi lalat agar tidak terlalu mengganggu lingkungan dan peternakan itu sendiri. Bali sebagai tujuan wisata bertaraf internasional wajib memandang persoalan lalat sebagai hal yang bukan sepele. Betapa memalukan kita jika rumah makan, penginapan, pasar dan tempat-tempat yang sering dikunjungi para wisatawan juga ramai dikunjungi para lalat. Berikut ini kami sampaikan sebuah email … Lanjutkan membaca